Sejarah
Setiap menjelang Ramadan selalu saja saya teringat pertama kali mendapat amanat dari Ta’mir Masjid Agung Semarang untuk membuat ganjel rel yang nantinya dibagikan kepada masyarakat berikut air khataman Al-Qur’an saat prosesi Dugderan berlangsung. Jajan pasar Ganjel Rel dipilih karena makna filosofi yang terkandung di dalamnya dan sekaligus mengangkat jajan pasar tradisional itu sendiri agar tidak terlupakan. Begitu mendapat amanat dari Ta’mir, saya segera mencari resep keluarga. Kebetulan istri saya asli Kauman dan dulu pernah ikut membantu buliknya membuat ganjel rel. Setelah resep asli ketemu, saya bereksperimen dengan satu resep asli dan enam varian modifikasi. Jangan tanya lagi rasanya yang asli karena sudah pasti alot, seret, dan mesti sedia air sebagai surungan.
Sementara enam varian lain dengan rempah-rempah alami dan komposisi yang berbeda dihidangkan untuk dinilai oleh para sesepuh dan peserta rapat, nantinya dipilih sebagai ganjel rel terpilih.
Kesulitan paling utama tentu ada pada komposisi bumbu rempah alami yang khas, di mana ada tujuh macam rempah yang masing-masing memiliki khasiat khusus.
Pada akhirnya ditentukanlah ganjel rel pilihan di antara enam varian yang pas dengan rasa tempo dulu, namun saya masih merasa ada yang kurang.
Pada sesi kedua, saya sajikan beberapa ganjel rel yang saya beli dari beberapa toko dan juga ganjel rel varian terpilih tadi dengan ukuran yang sama.
Subhanallah, yang menciptakan lidah tak pernah bohong.
Kembali ganjel rel varian terpilih menjadi yang direkomendasikan untuk dibuat.
Tapi yang namanya wa syawirhum fil amr tentu terjadi adu argumentasi di antara peserta rapat.
Sebagian berpendapat sebaiknya dipilih yang asli meskipun alot dan seret untuk menjaga keaslian ganjel rel itu sendiri, sementara yang lain berpendapat bahwa spirit atau ruh tradisi tetap ada pada ganjel rel terpilih, dan lagi, untuk apa membuat jajanan yang akhirnya tidak bisa dinikmati.
Azas manfaat dan madharat pun dibincangkan.
Pada prinsipnya, Ta’mir tidak ingin jajan yang dibagikan tidak termakan, mubazir, dan bisa-bisa hanya dijadikan jimat (na’udzubillahi min dzalik).
Ketua Ta’mir Masjid Agung Semarang KH Chanief Latief Lc.
pada akhirnya menyimpulkan bahwa seyogyanya kita bisa menerima ganjel rel terpilih karena tetap menjaga cita rasa tempo dulu namun bisa menerima kreasi dan inovasi yang lebih baik.
Nampaknya beliau menerapkan kaidah al-muhaafadloh ‘ala qodiim-i-s-sholih wal-ahdzu bil jadiidil ashlah, seperti yang pernah saya pelajari waktu nyantri di Pabelan dulu.
Wah, keren juga ya, ganjel rel jadi bahtsul masail.
Sejak itulah, menjelang Ramadan datang, air khataman Al-Qur’an dan 5000 potong ganjel rel—bahkan lebih—dibagikan oleh RMT Aryo Purboningrat yang diperankan oleh Walikota Semarang, dibantu oleh Lurah Kauman dan Lurah Bangunharjo kepada khalayak yang berkumpul di alun-alun Masjid Agung Semarang sebagai bekal menghadapi bulan puasa.
Dengan semangat menjaga tradisi lama yang baik, serta menjawab pertanyaan masyarakat tentang proses pembuatan ganjel rel, Alhamdulillah kini saya bisa membuat bahan satu racikan komplit untuk membuat ganjel rel dengan hanya menambahkan air, minyak, dan 2 butir telur.
Insya Allah siapapun bisa membuatnya, meskipun belum pernah belajar membuat roti sebelumnya karena caranya sangat mudah.
Ayo kita jadikan Semarang tidak hanya kota lumpia, tapi juga kota ganjel rel.
Semoga ini merupakan peluang usaha untuk menambah ekonomi keluarga, sebagaimana sering saya sampaikan dalam beberapa kesempatan saat memberikan pelatihan bagi ibu-ibu di 16 kecamatan se-Kota Semarang yang difasilitasi oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan BKKBN Kota Semarang.
Bagi yang ingin konsultasi dan ingin pintar membuat roti secara gratis bisa menghubungi MASJUKI di 024-70401057, tapi jangan SMS lho.
Terima kasih kepada Metro TV dan Trans 7 yang dalam kesempatan berbeda telah meliput proses pembuatan ganjel rel yang saya lakukan bersama santri-santri Pondok Tahfidz Raudhotul Qur’an Kauman Semarang.
Ini berdampak pada peningkatan minat masyarakat dalam mempelajari proses pembuatan ganjel rel.
Semoga Allah mengampuni dosa beliau dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT, Aaamin, Alfaatihah ~..
Melestarikan Rasa, Menghubungkan Tradisi
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.